Senin, 04 Juli 2011

Kepribadian Muslim

Al-Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ” pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2:219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.

Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

sumber: oasertarbiyah

Senin, 28 Juni 2010

Jeritan Anak Palestina

Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Betapa pun getirnya kenyataan itu, toh akhirnya memang harus ditelan. Karena hidup memang tak selamanya bisa memilih.
Mohammad al-Durra, bocah Palestina berusia 12 tahun harus meregang nyawa ditembus peluru serdadu Yahudi Israel pada 30 September 2000 lalu saat terjadi bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga muslim Palestina di Netzarim, Jalur Gaza. Dan kalo kamu rajin baca berita, pasti bisa mendapatkan foto ‘ekslusif’ yang diabadikan oleh dua wartawan Palestina yang bekerja untuk TV Perancis. Foto tersebut seolah ‘berbicara’ dan menjelaskan bagaimana biadabnya serdadu Israel ketika membantai Mohammad al-Durra yang berada dalam pelukan ayahnya.
Mohammad al-Durra dan puluhan remaja seusianya harus rela kehilangan masa depan. Berjuta impian yang sudah dirajut harus punah dalam sekejap. Beribu harapan sirna dalam hitungan detik. Ya, itu adalah kenyataan yang memang pahit dan getir. Brur, ini akan terus terjadi dan bakal terulang bila ummat Islam cuma diam—atau paling banter cuma mengutuk—tapi tindakan nyata kita tak pernah ada. Jelas, itu akan membuat orang-orang Israel besar kepala, dan akan merasa enteng melenyapkan nyawa orang-orang Palestina. Republika melaporkan, sampai tanggal 3 Oktober saja sudah 57 orang tewas dan 1.000 lainya luka-luka. Kawan, itu saudara-saudara kita. Masihkah kita cuek alias nggak peduli dengan nasib saudara kita di sana?
Ya, Palestina kembali membara kawan, setelah Ariel Sharon (ketua Partai Likud, Israel) melakukan kunjungan kontroversialnya ke Masjid Al Aqsha di Yerusalem Timur, 28 September 2000. Karuan saja kunjungan tersebut diprotes warga Palestina karena dianggap penghinaan terhadap ummat Islam. Nah, sekarang kamu bakal diajak untuk mengasah kesadaran politik (wa’yu siyasi) sekaligus kepedulian kamu terhadap nasib saudara kita di kawasan Timur Tengah itu (tentang masalah politik, bisa kamu baca kembali Studia edisi 025/Tahun I).

Keberanian Anak Palestina
Sekitar 300 anak Palestina berusia antara lima hingga delapan tahun berkumpul di kantor Komite Palang Merah Internasional di Tyre, Lebanon Selatan. Mereka duduk di halaman itu sambil membawa sejumlah poster dan spanduk yang bernada marah. Bayangin Brur, mereka semuanya masih anak-anak, tapi pikirannya sudah ‘dewasa’. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya.
Dan mereka ternyata bukan cuma duduk-duduk doang Non, tapi juga ‘bersuara’ lewat spanduk yang mereka buat, seperti dikutip oleh Republika, 5 Oktober 2000 lalu. “Kami semua adalah saudara syuhada Mohammad al-Durra.” Lalu dalam spanduk lain berbunyi, “Israel telah membantai anak-anak Palestina.”
Brur, ternyata bukan cuma itu yang dilakukan anak-anak Palestina yang gagah berani ini. Para bocah yang berasal dari tiga tempat kamp pengungsi di Tyre itu bak orang dewasa saja. Mereka juga membawa sejumlah plakat yang bisa menggelorakan semangatnya.
“Berjuang dan angkat senjata, satu-satunya jalan untuk membebaskan tanah Palestina.” “Palestina bertanggungjawab terhadap semua yang ada pada kami,” bunyi lainnya.
Teman-teman remaja, dua hal yang bisa menganggap rintangan sebagai tantangan adalah semangat dan keberanian. Tentu keberanian yang berhasil dimunculkan dari akidah yang benar. Akidah Islam yang kuat dan bersih. Dan sekarang ‘kebetulan’ banyak dimiliki anak-anak Palestina.
“Saya ingin membunuh orang Israel seperti mereka membunuh saudara kami Mohammad al-Durra,” kata Mohammad Natour, 14 tahun. Heroik memang. Terlepas dari sikap emosional anak-anak, tapi yang pasti itulah kenyataannya.
Belum lagi semangatnya Khaled Hamad, 11 tahun, yang membalur lumpur di wajahnya dan mengangkat bendera Palestina lalu mengatakan, “Jika bisa menembak Israel, saya tidak ragu-ragu lagi.” Hebat. Lalu, Brur, masih ada anak yang mampu melihat dengan mata hati dan pikirannya, seperti Ihab al-Sadid, anak berumur 12 tahun ini sangat kesal dengan aksi brutalnya tentara Israel yang menembaki anak-anak Palestina, ia mengatakan, “Mereka membunuh anak-anak. Sebab, mereka takut kalau nanti besar dan akan melawannya.” Tuh, anak seumuran SD saja sudah bisa berpikir jauh ke depan. Tentu pikiran seperti itu nggak muncul begitu saja, tapi ada proses. Siapa tahu, memang anak-anak itu dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pejuang Islam yang gagah berani. Masih nggak percaya? Coba kamu simak pernyataan Ridha Saleh, anak berumur 13 tahun, dengan mengenakan seragam militer, dan meminta wartawan foto untuk mengambil gambarnya. Ia mengatakan, “Saya juga ingin mati syahid, dan hanya ingin mati di sana.” Wah, wah, wah, benar-benar hebat. Kamu bisa seperti adik kita itu? Harus bisa!

Palestina Tanah Kita
Khalifah Abdul Hamid II berkomentar dengan tegas, tatkala Theodore Hertzl (penggagas gerakan Zionis) meminta tanah Palestina di tahun 1897, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku.” Mendengar komentar seperti ini karuan saja Hertzl murka. Bahkan lantaran komentar ini pula, ia kemudian melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan Khalifah.
Tentang Palestina ini, sebetulnya sudah dilindungi pula dengan sebuah perjanjian di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama Al Ihdat Al ‘Umariyyah (perjanjian Umar), yang berbunyi, “...atas nama Islam dan kaum Muslim. Isinya antara lain, ‘Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.” (Ibnu Jarir Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, pada judul “Iftitah Baitul Maqdis”—Penaklukan Baitul Maqdis).
Setelah Khilafah Islamiyyah (pemerintahan Islam) runtuh orang-orang Yahudi seperti menuntut balas. Maka dalam kondisi kaum muslim yang lemah mereka berusaha mencari dukungan Amerika dan PBB untuk mendirikan negara Israel Raya. Kamu bisa simak bagaimana para kekentong alias pentolan Yahudi ‘bersuara’ untuk mengesahkan tindakan brutal mereka dalam merampok tanah Palestina. “Negeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh karena itu, meminta pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang menggelikan,” teriak Golda Meir, PM wanita Israel pertama dengan sewotnya. “Negeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu berhak sepenuhnya atas tanah itu,” ujar Menachem Begin. Brur, orang inilah yang berhasil menggiring Presiden Anwar Sadat ke meja perundingan Camp David yang direkayasa oleh Amerika dan Israel sendiri.
Seperti satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang terkenal keji dan selalu menutup sebelah matanya berkomentar tak kalah menyakitkan, “Jika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula negeri injili,” Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin ‘gerah’ kita, “Negeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,” demikian pernyataan dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919. Wah, keterluan sekali “bangsa kera” itu, ya Brur? Yes, memang kurang ajar!
Tapi benarkah alasan mereka itu? Bohong besar Brur. Suer, kamu perlu tahu pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Roger Geraudy, seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam, “Ia sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia tegakkan sekarang ini,” tegasnya dalam buku yang ditulisnya, The Case of Israel a Study of Political Zionism.
Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita, bukan milik “bangsa kera” itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya berarti urusannya darah. Kita tegas aja, Brur!
Maka solusinya adalah seperti yang dilontarkan oleh salah seorang bocah palestina di atas. Apa itu? “Angkat senjata dan basmi orang-orang Yahudi Israel terkutuk itu!” Memang hanya itu satu-satunya jalan, nggak ada jalan lain. Jangan memaksakan berdamai, toh perundingan damai cuma buang waktu saja.
Bagaimana dengan Kita?
Ya, itu masalahnya. Kita dan anak-anak Palestina memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dengan anak-anak Palestina terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.
Sobat, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk mengusir serdadu Israel yang telah merampok tanah mereka. Kamu jangan cuek menyaksikan kejadian ini.
Coba, ketika anak-anak Palestina meregang nyawa ditembus peluru Israel, kira-kira kita sedang ngapain. Main basket? Atau tidur nyenyak? Atau malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironi bukan?
Juga, ketika teman-teman kita menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main gim? Pacaran? Nonton konser musik? Atau malah sedang asik melahap makanan ‘bule’ di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu dimana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?
Kawan, anak-anak Palestina sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat ulah orang-orang Yahudi yang menggasak tanah mereka dan mengusirnya bak pesakitan. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya ‘bersatu’ dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan, bahwa itu adalah orang lain? Tidak kawan, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau di negeri sendiri; Ambon, Aceh dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia ini adalah saudara kita. Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Kalau pun sekarang kita nggak merasa bahwa itu saudara kita karena kita menganggap beda daerah, beda bahasa, dan beda negara. Itu adalah kesalahan besar. Ya, salah besar sobat! Ternyata ide nasionalisme telah membuat ‘dinding tebal’ di antara kita. Sehingga kita nggak bisa ‘menengok’ saudara kita yang tengah menderita. Kita menjadi orang super cuek alias nggak mau peduli dengan urusan saudara kita sendiri. Tolong, sikap seperti itu jangan dipelihara, itu berbahaya bin gawat. Sekali lagi, kita bersaudara, bahkan seharusnya merasa sakit bila saudara kita disakiti dan merasa senang bila saudara kita berhasil. Sudahkah kita memiliki rasa itu?
Hadits ke-13 dari kumpulan Hadits Arba’in karya Imam Nawawi tertulis, “Dari Abu Hamzah (yaitu) Anas bin Malik r.a. pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir r.a berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit” (HR. Bukhari-Muslim)
Dua hadits tadi cukup memberikan ‘sentuhan’ kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu tubuh. Kita bersaudara, sayang. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah ‘nyukurin’. Kan aneh ya, nggak? Nah, begitu pun dengan saudara kita di Palestina, mereka lagi menderita, gokil dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Itu namanya muslim ‘biadab’. Jangan sampe deh nurani kita begitu bebal. Kita kan bukan batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan ‘berjuta’ rasa lainnya. Sebaiknya memang kita merenungkan kembali firman Allah swt., sekaligus meneladani Rasul-Nya,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS: al-Fath: 29)
Kita harus peduli dengan nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk Palestina. Bisa kan, Brur?
Tentu Brur, bila Khilafah Islamiyyah (pemerintah Islam) belum runtuh, kejadiannya bakal lain. Suer, kamu lihat sikap Khalifah Abdul Hamid II begitu tegas dan berani menghadapi ‘rengekan’ Theodore Hertzl yang meminta tanah Palestina. Pernyataan Khalifah Abdul Hamid II sama saja dengan mengajak perang kepada kaum Yahudi, hebat bukan?
Jadi bagaimana sekarang? Memang solusi untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel adalah dengan mengangkat senjata. Berarti pemecahannya adalah dengan jihad. Kamu perlu tahu, bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi penduduk yang berada di daerah konflik (Palestina dan sekitarnya), sedangkan bagi yang jauh seperti kita di sini, ‘jatuhnya’ adalah fardhu kifayah (tapi kita harus siaga, siapa tahu orang Yahudi kemudian melipat-gandakan kekuatannya). Jadi langkah praktisnya, kita bisa mengirimkan bantuan baik berupa uang ataupun senjata untuk mereka. Ya, paling minimal banget wujud peduli kita adalah dengan mendoakan mereka supaya tetap kuat melawan orang-orang Yahudi itu.
(muda:Edisi 030/Tahun I)

Senin, 10 Mei 2010

Pers Release Lemon Fresh

Bulan lalu, tepatnya pada tanggal 11 April 2010.

Forum Rohis Diploma IPB telah mengadakan acara Lemon Fresh(Lets Motivation Forum Rohis) dengan tema :

“Dengan Kejujuran Kita Raih Masa Depan Gemilang"

Dimana dalam acara ini menghadirkan Ahmad Deni (WapresmaIPB) dan WS Dodo (Ketua FLP Pusat) sebagai pembicara.Acara ini bertempat di TPAI Al Ghifari dan jumlah peserta yang hadir mencapai 35 orang.

Lemon tea dan kukil (kue kiloan) sebagai hidangan-nya. Ditunggu kedatanganmu dalam Lemon Fresh selanjutnya...

-----------------------------------------------

Published by Public Relation Forum Rohis

Kamis, 18 Maret 2010

Hari ini Menara, besok Masjid yang dilarang !!



Ulama terkemuka Syaikh Yusuf al-Qardhawi yang juga merupakan Presiden persatuan ulama internasional - telah menyerukan umat Islam di seluruh dunia untuk memprotes atas pelarangan menara masjid di Swiss dan meminta pemerintah Swiss menghentikan keputusan tersebut dan menganggap pelaksanaan referendum yang didukung oleh partai rakyat Swiss (SVP) akan mengakibatkan runtuhnya upaya dialog antara barat dan Islam yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun.

Syaikh al-Qardhawi menyatakan pada bahwa, "minoritas umat Muslim di Swiss harus mengajukan banding ke badan-badan hak asasi manusia internasional, untuk membalikkan keputusan ini."

Dia menyesalkan hasil referendum, dengan mengatakan: "hasil referendum di Swiss telah membuat saya sedih, sehingga kelompok sayap kanan bisa melakukan propaganda menentang kaum Muslimin, dengan mengintimidasi umat Islam di Eropa, meskipun kita mengetahui bahwa Swiss sebenarnya negara yang netral, menjunjung tinggi keamanan dan kebebasan - dan tidak menentang agama apapun. "

Syeikh Qardhawi menyatakan terkejut dengan kehebohan yang mengangkat topik pembangunan menara di masjid-masjid di Swiss, dan merasa aneh kelompok ekstrem sayap kanan dapat berhasil menjalankan propagandanya untuk menyerukan rakyat Swiss untuk memilih keputusan melarang menara masjid, meskipun pihak pemerintah, kelompok oposisi, parlemen menolak hal tersebut."

Dalam konteks yang sama, Persatuan Ulama Internasional mengatakan dalam sebuah pernyataannya yang diterima oleh "Islam Online. Net dan ditanda tangani oleh Syaikh Qardhawi, menyatakan bahwa mereka terkejut dengan hasil referendum di Swiss.

Hasil referendum tersebut sangan kontras dengan rakyat Swiss yang selalu mendengungkan demokrasi dan kebebasan beragama dan juga menyatakan bahwa referendum itu bertentangan dengan konstitusi dan piagam-piagam hak asasi manusia, nilai kebebasan beragama dan keragaman budaya."

Persatuan Ulama Internasional memperingatkan bahwa referendum bisa jadi di masa depan akan mengangkat tema untuk larangan adanya masjid, sambil berkata: "Hari ini menara yang dilarang dan mungkin besok masjid itu sendiri yang dilarang!!"

Persatuan Ulama Internasional menganggap bahwa hasil referendum ini "mencerminkan bentuk baru permusuhan terhadap Islam dan umat Islam di negara Swiss pada khususnya dan Eropa pada umumnya." Mereka memperingatkan bahwa hasil referendum "akan memperkuat posisi unsur-unsur radikal dari kaum muslimin.

Pernyataan itu meminta pemerintah Swiss untuk mengasumsikan "tanggung jawab penuh atas konsekuensi yang di dapat dari hasil referendum ini, terutama fenomena berkembangnya permusuhan dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam di Swiss."

Persatuan Ulama internasional juga menyerukan minoritas Muslim di Swiss untuk "tetap tenang dan tidak emosional dan tetap melakukan protes dengan cara-cara damai, terutama bekerja sama dengan beberapa organisasi dan asosiasi lokal dan internasional untuk menyatakan menolak referendum ini, dan akibatnya serta hasilnya."

Persatuan Ulama Internasional juga meminta Organisasi Konferensi Islam (OKI) melakukan kampanye internasional di antara negara-negara yang umt muslimnya minoritas, terutama di Barat, dalam rangka untuk menggambarkan keseriusan referendum mengenai masa depan koeksistensi antara Muslim dan komunitas lain."

Selain Persatuan Ulama Internasional yang dikomandoi oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi menentang pelarangan menara di Swiss, Syaikhul Al-Azhar Dr Muhammad Sayed Tantawi juga ikut mengecam pelarangan tersebut dan meminta pemerintah Swiss mencabut dan menghentikan pelarangan pembangunan menara masjid di Swiss, hal ini ia sampaikan sewaktu bertemu langsung dengan duta besar Swiss untuk Mesir di Kairo pada hari Selasa yang lalu (1/12).

Syaikh Tantawi menyatakan bahwa, "Keputusan ini memiliki dampak yang sangat buruk di hati umat Islam dan kami harap pemerintah Swiss mencabut keputusan tersebut; karena tidak ada untungnya melakukan hal itu, hal itu hanya akan menimbulkan kebingungan dan persepsi buruk tentang umat Islam di Swiss yang kami ingin tetap mendapatkan tempat penghormatan dan penghargaan tanpa sedikitpun mendapatkan diskriminasi atau pelecehan terhadap Islam atau keyakinan umat Muslim. "

Sementara itu, duta besar Swiss menjelaskan bahwa alasan para pemilih dalam mendukung melarang pembangunan menara baru adalah adanya rasa takut akan meningkatnya jumlah Muslim di Swiss, dan munculnya permintaan masyarakat Islam yang secara paralel ingin menerapkan ajaran-ajaran agama mereka atau diberlakukan dalam sistem pendidikan.

Dia menekankan bahwa pemerintah akan tetap mengijinkan empat menara masjid yang telah ada sebelumnya, dan hal tersebut tidak akan mempengaruhi pembangunan masjid-masjid di Swiss namun tidak untuk penambahan menara masjid.

Sedangkan Dr Ali Gomaa, Mufti Agung Mesir, mengatakan bahwa "keputusan untuk melarang menara-menara menunjukkan adanya masalah dengan dialog yang telah 20 tahun dilakukan antara umat Islam dengan barat, mengeluarkan dekrit melarang menara telah melanggar banyak aturan dialog, kita membangun hidup setiap orang untuk saling menghormati dan saling berdialog, namun harus hancur gara-gara keputusan yang salah dengan melarang menara masjid."

Sementara Menteri Wakaf Mesir, Dr Mahmoud Hamdi Zaqzouq menyatakan bahwa hasil referendum Konstitusi Federal Swiss bertentangan dengan kesetaraan, karena memungkinkan bagi non-Muslim untuk mengungkapkan simbol-simbol keagamaan mereka dan menolak untuk melakukannya bagi seorang Muslim.(fq/iol)

sumber: Eramuslim

Kamis, 03/12/2009 08:28 WIB

Minggu, 14 Februari 2010

Kelezatan terbaik dari durian oleh Achmad Siddik Thoha

Siapa yang tak kenal durian, apalagi buahnya. Sosok pohon yang aslinya sangat besar ini, tingginya bisa mencapai 50 m. Daunnya berwana hijau dibagian atas dan dibagian bawahnya perak atau keemasan. Buah durian memiliki bungkus kulit berduri yang kuat dank keras. Aroma buahnya saja sudah membuat tertarik orang yang melewatinya. Apalagi buahnya yang tebal menguning seperti mentega.

Hal unik dari durian, ia hanya tumbuh di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia dan Philipina. Malaysia aktif mempromosikan durian salh satunya lewat film UPIN dan UPIN yang banyak penggemarnya di Indonesia. Philipina mempunyai peringatan khusus yaitu Festival Kadayawan yang merupakan perayaan tahunan untuk durian di Davao City.. Bahkan nama durian ini tak berubah meski dalam bahasa asing. Lihatlah kamus bahasa Inggris, maka kata durian itu bahasa asli nama tumbuhan dunia.

Buah durian yang semerbak dan lezat ini tercipta dengan bungkusan duri yang tajam dan keras. Bukan tanpa maksud, sebab dengan kelezatan dan aromanya, durian menjadi incaran banyak hewan. Bila kulitnya lunak atau sama sekali tidak terbungkus duri, maka jatah durian hanya untuk konsumsi hewan di atas pohon seperti tupai, kalong, monyet dan burung. Bila demikian, manusia takkan pernah bisa mencicipinya.

Ada pepatah seperti mendapat durian runtuh. Pepatah ini menggambarkan karakter durian yakni ketika sudah matang dia akan jatuh sendiri. Durian tak pernah dipanen sebelum matang. Saat matang, pemilik duria tak perlu capek-capek naik pohon durian. Dia tinggal menunggu durian terhempas jatuh dan tinggal mengambilnya ditanah. Kalaupun ada buah durian mentah yang ikut jatuh, itu karena terbentur durian di atasnya yang melayang menabrak buah mentah. Tentu saja, dengan kulit yang keras, durian akan baik-baik saja ketika mendarat ditanah. Tak ada kulitnya yang pecah atau hancur.

Jatuh dengan sendirinya adalah sifat khas dari durian. Ia tak mau menjatuhkan diri sebelum matang. Ia tak mau tergesa-gesa bisa disantap manusia saat belum pantas dimakan. Saat jatuh ia berani menjamin, buahnya takkan disia-siakan manusia atau hwan.

Saat durian jatuh inilah, waktu yang tepat untuk menikmati puncak kelezatan buah durian. Beberapa hari lewat dari masa jatuhnya durian, maka rasanya akan berkurang, buahnya lembek dan akan busuk. Jangan berharap menikmati durian yang lezat dari hasil karbitan. Jangan pula berharap menikmati durian enak dengan memetiknya langsung dari pohonnya. Durian hanya lezat bila dia jatuh melepaskan diri dari gantungan tangkai buahnya.

Duian mengajarkan pada kita untuk menunggu saat yang tepat mempersembahkan karya terbaik. Sebelum terhempas dan memberi “karya terbaik”, manusia terbaik akan tetap dalam posisinya mengolah buah karyanya untuk jadi yang terbaik. Ketergesa-gesaan takkan menghasilkan manfaat yang maksimal. Bahkan ketergesa-gesaan bisa membuat “buah” karya kita pecah saat terhempas di lingkungan luar yang keras. Bila karya kita sudah :matang" maka tak perlu menunda-nuda lagi jatuh dan terjun berbuat yang terbaik untuk lingkungan.

Kesabaran untuk menjaga kualitas “buah” karya perlu kita tiru dari sosok durian. Kita juga perlu melindungi buah karya dari serangan “pemangsa” . Melindungi buah karya tidak harus membuat tameng pada karya-karya kita dengan menyimpannya ditempat tersembunyi. Cara melindungi karyak dengan cara menuliskan, mengajarkan dan mengamalkannya. Pada saatnya kita tejun dan terhempas ke “tanah” dunia berkarya, kita akan siap dan punya keyakinan diri, akan mampu bertahan, tidak pecah atau hancur. Maka saat buah karya kita telah dipungut dan dimanfaatkan, pastilah mengandung manfaat yang tinggi.

Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com


Filosofi durian yang diterapkan dalam kehidupan dan bisnis.
Oleh Isa Alamsyah.

Durian menunggu saat terbaik sebelum jatuh!
Filosofi ini banyak dipakai oleh oran top dunia! Kata kuncinya, timing!

James Camerom menunggu lebih dari 10 tahun untuk bisa membuat film Avatar. Sejak belasan tahun lalu ia sudah punya ide Avatar akan tetapi teknologi tersebut belum ada. Ketika teknologinya memungkinkan ia membuat film Avatar.
Kini film Avatar berhasil menjadi film yang paling banyak menghasilkan income dalam sejarah perfilman dunia. Mengalahkan rekor Titanic yang juga karya James Cameron.

George Lukas menunggu puluhan tahun untuk bisa membuat Star Wars episode pertama karena teknologi di masa lalu tidak memungkiinkan. Tapi ia tidak menunggu saja, ia memulai dari edisi II dan ketiga terlebih dahulu, karena episode tersebut masih mungkin dibuat.
Karena selalu menuntut kesempurnaan, dulu Lukas tidak mengizinkan film Star Wars diputar di Indonesia karena bioskop Indonesia tidak memenuhi syarat visual dan terutama sound systemnya.
Ia memilih untuk tidak mendapat untung sama sekali daripada harus menjual filmnya dan terkesan buruk.
Film Star Wars juga menjadi legenda.

The Beatles tidak mau ke Amerika sebelum jadi menembus no. 1 di chart musik Amerika.
Sekalipun mereka sudah menjadi no.1 di Eropa, mereka tetap menolak untuk ke Amerika karena single mereka belum menembus no.1.
Suatu saat ketika konser di Paris, Beatles mendapat kabar lagu mereka akhirnya menduduki tangga no. 1 di Amerika.
Langsung mereka memutuskan untuk datang ke Amerika.
Tahukah Anda sejarah yang mereka cetak ketika berkunjung ke Amerika?
Penayangan acara mereka di AS disaksikan 74 juta pemirsa yang atau lebih dari 40 persen populasi Amerika saat itu. Tingkat kriminalitas menurun drastis pada saat acara tersebut ditayangkan.
Mereka menjadi pelopor "British Invation" dalam musik ke Amerika.

Jadi kita harus pandai menentukan timing yang tepat, karena timing adalah salah satu kunci kesuksesan.